Pengontrol Kejiwaan Bernama Sosial Media di Jaman Millennials

October 08, 2017


Apa yang membuat orang merasa penting?
Pangkat? Jabatan?

Apa yang membuat orang merasa bahagia sepanjang hari?
Kabar dari orang yang disayang? Uang?

Apa yang mampu mengontrol mood seseorang?
Makanan? Menjalani hobi? Menjaga religi?

Nggak ada yang salah dari semua jawaban diatas. Kemungkinan kita semua memiliki jawaban yang sama. Merilis hormon serotonin dengan orang tersayang, menaikan self-esteem dengan promosi jabatan dalam karir, serta terpenuhi kadar endorfin dari makanan enak dan menjalani hobi.

Hmm.. Ada yang kurang nggak sih? Emangnya hormon pengatur kebahagiaan seseorang bisa terpenuhi hanya karena hal itu aja?

Pernah menemukan perdebatan soal beda pendapat antara anak dan orang tua? Sering. Karena perbedaan generasi yang harus dimaklumi. Dunia terus berkembang, membentuk masyarakat yang juga berkembang sesuai generasinya, makanya banyak gap antar generasi karena merasa anak jaman sekarang beda banget sama jaman sebelumnya. Menyentuh seperempat abad usia, gua akhirnya ngerti kenapa orang-orang yang lebih tua dari gua dulu sering banget berbeda pendapat, atau nggak mau ngikutin perkembangan tren dan teknologi.

Meskipun berbeda pendapat dan nggak mau ikut tren itu sah, rasanya salah kalau kita nggak ngikutin perkembangan teknologi. Era millennials sekarang ini, teknologi sudah seperti oksigen. Apa daya sebuah perusahaan, sekolahan, dan hiburan tanpa internet?

Yang paling essential di internet bagi orang banyak tentunya akun social media, dari yang awalnya hanya diciptakan untuk mempertemukan orang sampai bisa dijadikan ladang berjualan dan hiburan. Hanya saja, setiap kemajuan teknologi akan selalu ada sisi positif dan negatifnya, mungkin yang gua sebutkan tadi adalah sebagian sisi positifnya, lalu bagaimana dengan negatifnya?

Ironisnya, banyak yang menggunakan sosial media dengan tidak dewasa. Hoax dimana-mana, bahkan sampai ada yang ribut adu argumen dengan alasan freedom of speech. Hey, internet emang membuat lu punya freedom of speech, tapi freedom bukan berarti nggak tau etika dan aturan. Amat menyedihkan kalau sebuah bangsa terpecah cuma karena ketidakdewasaan di social media.

Instagram. Bisa dibilang inilah platform paling fenomenal saat ini, apalagi setelah dibeli facebook, fitur instagram ini semakin banyak dan menguras memori, serta baterai handphone semua orang. Oh satu lagi, kuota.

Sejak semua orang bisa mengupload foto di internet, tentu dengan mudah kita bisa membaca karakter orang juga. Bahkan ada beberapa perusahaan yang proses recruitment karyawannya lewat social media.

Nggak hanya sampai disitu, social media ini juga bisa memberi hormon endorfin pembuat bahagia bagi kita semua, yang kalau nggak secara bijak kita menyikapinya, malah akan mengontrol kita. kalau dulu orang bahagia hanya dari uang, karir, hobi, makanan, dan hiburan, sekarang tambah satu lagi; popularitas atau respon netizen di akun social medianya.

Kalau dulu orang liburan untuk merilis stress, jaman sekarang orang liburan untuk upload foto atau video, kemudian kalau yang likes atau comment cuma sedikit, dia jadi stress.

Kalau anak sekolah diajarin sama guru yang marah-marah di kelas, anak itu mana tau kalau misalnya sang guru punya masalah dengan keluarga atau pacarnya, dan kalau masalahnya karena hal itu mungkin normal karena guru juga manusia. Tapi bagaimana kalau guru tersebut kaget dengan teknologi? Hobi selfie dan stress cuma karena social media? Menjijikan kan? Pengaruhnya kepada pendidikan negeri ini lho.

Saat lu membuat account social media di internet, artinya sebagian dari diri lu itu jadi milik publik. Dan akan selalu ada yang suka dan tidak suka. Kalau pun ada yang nggak suka, bukan berarti haters. Saran gua, kalo lu belum dewasa* lebih baik nggak usah punya social media.

*dewasa secara mental bukan usia kalender

Jelas amat terlihat menyedihkan bila tolak ukur kebahagiaan seseorang hanya sebatas berapa banyak jumlah likes dan comment di postingan social media.

Akui aja kalau kita semua susah lepas dari social media, bahkan mempengaruhi rutinitas pagi dan malam. Wajar sih sebagai manusia kita butuh pengakuan, tapi alangkah lebih baik untuk lebih bijak menggunakannya agar jangan sampai social media menjadi alat pengontrol mood seseorang.

Salam,

Gusmantara, Edwien.





You Might Also Like

0 comments