Minimalism #2 | Decluttering: Seni merelakan barang-barang yang tak terpakai

Desember 30, 2018

Ada berapa banyak barang yang tak terpakai di rumah anda?


Silakan cek isi lemari pakaian, dapur, rak sepatu, atau bahkan beberapa sudut ruangan yang ternyata banyak barang yang sudah tidak pernah kita gunakan lagi. Pernah shopping karena diskon dengan harapan dalam hati "Ah nanti juga kepake kok" padahal sampai sekarang nggak sama sekali? Saatnya anda mencoba decluttering!

Terima kasih sudah membaca postingan pertama saya tentang apa itu Minimalism. Saatnya sekarang kita bahas apa itu decluttering dalam minimalism dan harus mulai darimana?

Less stuff less maintenance.

Seperti judul postingan ini, kita harus relakan barang-barang yang tak terpakai dan tidak ada value nya lagi. Terus gimana caranya?

Remove first, then organise.

Lakukan eliminasi barang-barang terlebih dahulu, lalu pisahkan ke dalam dua bagian; Remove and Donate. Setelah anda tahu mana yang harus dibuang dan mana yang masih bisa didonasikan, anda baru bisa mulai organise barang yang anda suka dan butuhkan.

Minimalism is a process of removing the distractions.

Ingat di postingan pertama saya, minimalism is different to everyone. Jangan lakukan declutter secara extreme, karena isi rumah anda berbeda dengan orang lain, anda pun pasti punya sentimental item yang berbeda. Minimalism juga tidak ada deadline-nya, anda bisa mulai dari isi lemari pakaian anda terlebih dahulu, hari berikutnya seisi kamar, dan berlanjut ke ruangan lainnya. Jadi tidak ada alasan anda masih tinggal di rumah orang tua atau sudah punya rumah sendiri.

By removing useless stuff, you're removing the distractions. Saat ini saja produktivitas kita sudah terdistraksi oleh banyaknya notifikasi di social media. Dengan memiliki lebih sedikit barang artinya lebih sedikit hal yang memecah konsentrasi kita sehingga kita lebih produktif.

Having less stuff means having more money.

Ada yang biilang minimalism itu berarti minim uang, hemat, cenderung irit bahkan pelit. Hey! Mari kita pahami. Hemat adalah result. Justru karena anda seorang minimalist, anda jadi tahu mana yang harus disimpan dan mana yang tidak perlu, mana yang harus dibeli dan mana yang tidak. Karena menerapkan hidup minimalis anda jadi hemat, bukan sebaliknya.

Decision maker.

In my opinion, inilah manfaat besar yang akan dirasakan setelah decluttering. Betul, decluttering melatih diri untuk berani ambil keputusan, berani menentukan, punya sikap, serta prinsip hidup yang kuat.


Always remember,


less is more.

Minimalism #1 | Live more with less

Desember 05, 2018

Apa itu minimalism dan kenapa saya tertarik dengan lifestyle ini?


Akhir-akhir ini, saya memang sedang membicarakan tentang perubahan gaya hidup agar merdeka secara finansial bersama pasangan saya, lalu selain mendapat inspirasi tentang atur keuangan ala financial planner, saya juga menemukan trend gaya hidup baru yakni, minimalist life.

Pernah merasa excited beli barang tertentu, tapi setelah dibeli excitement nya pudar? Jadi biasa aja. Nggak butuh-butuh amat. Terlalu banyak barang nggak penting di rumah, kardus dan beberapa barang yang kita malas untuk bereskan. Semakin banyak barang artinya semakin banyak distraction, semakin banyak hal yang memecah pikiran.

Ide tentang gaya hidup minimalis menarik minat saya ketika melihat youtube Matt D'Avella yang akhirnya membuat saya menemukan Josh & Ryan (The Minimalists). Saya pun semakin tertarik dan mulai eksplore banyak minimalist lainnya seperti Rachel Aust dan Anthony Ongaro.

Saat mendengar kata minimalis yang terbayang dibenak anda mungkin adalah rumah, fashion, atau seni. Mari kita bahas agar tidak ada yang salah kaprah tentang minimalism.

Minimalism adalah declutter atau merelakan barang-barang yang tidak perlu, nggak boleh punya ini, kurangi beli barang itu, hidup di rumah minim warna, kalau bisa hidup di caravan karena rumah itu harus bayar pajak dll.

Bukan.


Minimalis bukan berarti semua hal serba minimal apalagi isi dompet yang minimal. Jangan dong. Minimalism adalah media yang bertujuan untuk hidup penuh makna, less stress, less consumptive, mengeliminasi hal-hal yang tidak ada value nya dalam hidup kita tanpa merusak kebahagiaan kita, sehingga kita merdeka, sehat secara pikiran, atau bahkan secara finansial.

Live a simple life to get the rich value of it.

Kalau sudah tau tujuannya, baru kita take action, dan perlu diingat, semua orang punya pandangan berbeda-beda terhadap barang yang dia anggap punya sentimental value, dan pastinya hidup di rumah yang berbeda, hobi dan passion nya juga berbeda. Maka anda bisa putuskan sendiri, barang apa yang tidak penting, warna apa yang nyaman, hobi apa yang worth it dan yang tidak, serta biaya belanja seperti apa yang sehat untuk anda.

So, kita semua bisa menjadi minimalist walau personality kita berbeda. Selama kita mencapai tujuan minimalism tersebut. Kalau anda hobi koleksi buku, sneakers, parfum, make up, jam tangan, atau hobi yang bisa dibilang konsumtif, ya tidak dilarang. Kalau anda bisa hidup dengan kartu kredit, ya lanjutkan. Selama anda merasa itu adalah item yang punya value buat hidup anda tanpa mengganggu pikiran dan keuangan anda. Karena tujuan minimalism pada akhirnya membuat kita bahagia kan?


Anda yang punya kontrol penuh terhadap hidup anda.

Siapa yang mengatur standar hidup kita? Diri kita sendiri, bukan omongan orang, apalagi followers di social media.

Think before you buy.

Stop buying something you can't afford in order to impress people you don't know. Lebih baik punya sedikit barang tapi banyak manfaatnya. Jangan sampai cashflow bulanan anda kacau karena membeli barang yang tidak perlu. Terutama tergoda promo online shop. Minimalisme adalah gerakan melawan arus konsumerisme, dengan berfokus kepada "Mana hal yang penting untuk saya?"


Declutter unnecessary item. Keep that brings you joy.

Buang atau donasikan barang-barang kita yang tak terpakai, tapi tetap simpan apa yang menurut anda layak disimpan.


But remember,


less is more.