Minimalism: Live more with less

Juni 19, 2019

Apa itu minimalism dan kenapa saya membahas ini?



Di era digital ini, ada banyak gratifikasi berupa ilmu yang bisa kita akses dengan mudah. Setelah mempelajari teka-teki tentang mengatur keuangan dalam beberapa bulan terakhir, ada tuntunan hidup di negara lain yang menarik minat saya.

Pernah merasa excited saat belanja, tapi setelah dibeli excitement nya pudar? Jadi biasa aja. Nggak butuh-butuh amat. Terlalu banyak barang nggak penting di rumah, kardus dan beberapa barang yang malas rasanya untuk dibereskan. Semakin banyak barang artinya semakin banyak distraction, semakin banyak hal yang memecah pikiran.

I would say this is my journey. Ide tentang gaya hidup minimalis menarik minat saya ketika melihat youtube Matt D'Avella yang akhirnya membawa saya menemukan Josh & Ryan (The Minimalists). Saya pun semakin tertarik dan mulai explore minimalist lainnya seperti Rachel Aust, Leo Babauta dan Anthony Ongaro. Hingga akhirnya mulai mencari-cari profil dan buku karya mereka saat ini.

Saat mendengar kata minimalis yang terbayang dibenak anda mungkin adalah model, rumah fashion, atau seni. Mari kita bahas agar tidak ada miskonsepsi tentang minimalism.

Minimalism adalah hidup simple dengan nggak punya barang-barang yang nggak perlu, nggak boleh punya ini, dilarang beli itu, hidup di rumah minim warna, kalau bisa hidup tanpa memiliki kendaraan karena perawatan dan pajaknya mahal.

No. That's too far.

Minimalis bukan berarti semua hal serba minimal apalagi isi dompet yang minimal. Jangan dong. Minimalism adalah media yang bertujuan untuk hidup penuh makna, less stress, less consumptive, mengeliminasi hal-hal yang tidak ada value nya dalam hidup kita tanpa merusak kebahagiaan kita, sehingga kita merdeka, sehat secara pikiran, atau bahkan secara finansial.

Minimalism is different to everyone.

Kalau sudah tau tujuannya, baru kita take action, dan perlu diingat, semua orang punya pandangan berbeda-beda terhadap barang yang dia anggap punya fungsi dan sentimental value, dan pastinya hidup di rumah yang berbeda, kebutuhan, hobi, serta passion nya juga berbeda. Maka anda bisa tentukan sendiri, barang apa yang tidak penting, warna apa yang disuka, hobi apa yang banyak benefitnya dan yang tidak, serta biaya belanja seperti apa yang sehat untuk anda.

Kita semua bisa menjadi minimalist walau personality kita berbeda, selama kita bisa mencapai tujuan minimalism tersebut. Kalau anda hobi koleksi buku, sepatu, parfum, make up, jam tangan, atau hobi yang bisa dibilang konsumtif, ya tidak dilarang. Kalau anda bisa hidup dengan kartu kredit, ya lanjutkan. Selama anda merasa itu adalah item yang punya value buat hidup anda tanpa mengganggu pikiran dan keuangan anda. Karena tujuan minimalism pada akhirnya membuat kita bahagia kan?

Yang menjadi masalah adalah ketika mulai merasa "Ini semua terlalu banyak nih.. Duh harus diapain ya, ditaruh dimana nih"

Anda yang punya kontrol penuh terhadap hidup anda.

Ingat ya, minimalism itu membuat simple hidup anda, bukan mengekang.

Think before you buy.

Stop buying something you can't afford in order to impress people you don't know. Lebih baik punya sedikit barang tapi banyak manfaatnya. Jangan sampai cashflow bulanan anda kacau karena membeli barang yang tidak perlu. Terutama tergoda promo online shop. Minimalisme adalah gerakan melawan arus konsumerisme, dengan berfokus kepada "Mana hal yang penting untuk saya?". Serta mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.

Declutter unnecessary item. Keep the essential stuff that brings happiness into your life.

Buang atau donasikan barang-barang kita yang tak terpakai, tapi tetap simpan apa yang menurut anda layak disimpan.


Live more with less. Saya merasa lebih hidup ketika memilki lebih sedikit distraksi dari notif social media, biaya yang keluar untuk maintenance barang-barang yang bahkan sudah lama nggak saya sentuh. Terlebih lagi melihat ruangan rapih dan terbebas dari barang-barang yang nggak perlu itu membuat pikiran tenang. Terima kasih sudah membaca.

Remember,

less is more.

You Might Also Like

0 komentar